Kesejahteraan Rakyat, Antara Cita dan Realitas

Monday, May 28, 2012

Beberapa Permasalahan Pengembangan Pertanian


Dalam menilai kesejahteraan petani, Pemerintah mengunakan variabel Nilai Tukar Petani (NTP). NTP dapat menjelaskan posisi kesejahteraan petani dilihat dari sisi pendapatan, yaitu perbandingan antara pengeluaran dan penerimaan petani. Pengeluaran petani terdiri atas pengeluaran konsumsi, biaya produksi dan barang modal, sedangkan penerimaan petani bersumber dari tanaman bahan makanan. Semakin tinggi NTP maka semakin tinggi kemampuan ekonomi petani dan semakin tinggi pula tingkat kesejahteraannya.

Berdasarkan NTP-nya maka pada umum kondisi petani sangat memprihatinkan hal ini terjadi karena :
  • Sistem pertanian belum berkembang sebagai sistem agribisnis yang terpadu;
  • Kebijakan industri yang substitusi impor menyebabkan harga-harga produk industri yang dikonsumsi oleh petani menjadi mahal;
  • Belum adanya proteksi harga dan pemberian subsidi bagi petani;

 Menurut Clark dan Haswel, terlalu terpusatnya kegiatan ekonomi di sektor pertanian merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan yang diperoleh, sebagian besar kegiatan pertanian di negara berkembang merupakan kegiatan pertanian dengan tingkat produktivitas rendah rata-rata 0,5-1,2 ton tiap ha-nya. Rendahnya tingkat produktivitas kegiatan pertanian, disamping menyebabkan pendapatan petani yang rendah, menyebabkan pula kesulitan untuk menaikan produksi pertanian perkapita penduduknya.

Rendahnya produktivitas pertanian ini juga didukung oleh kekurangan prasarana pertanian, cara bercocok tanam yang digunakan sangat tradisional, input modern yang digunakan sangat terbatas, tingkat pendidikan dan pengetahuan para petani sangat rendah, terdapatnya beberapa faktor sosial budaya yang mengurangi kegairahan petani untuk menaikan produktivitas, dan petani tidak mempunyai kemampuan untuk membeli sendiri input pertanian yang diperlukan.

Di samping itu hambatan juga terjadi secara institusional, faktor-faktor yang bersifat institusional yang acapkali menghambat inovasi antara lain  meluasnya sistem penyewaan tanah dimana petani-petani hanya mendapatkan sebagian saja dari hasil tanaman mereka, terdapatnya tengkulak-tengkulak yang membeli hasil produksi petani secara mengijon yaitu membeli hasil tersebut jauh sebelum panen dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasar, terdapatnya sistem pemasaran hasil-hasil pertanian yang sangat dikuasai oleh pedagang perantara, dan adanya kesukaran untuk memperoleh pinjaman modal bagi membiayai penanaman modal di bidang pertanian tradisional.

Pengembangan kegiatan pertanian juga tidak terlepas dari permasalahan dualime pengelolaan. Menurut Higgins dan Myint terdapat dualisme teknologi, adalah suatu keadaan dimana di dalam suatu bidang kegiatan ekonomi tertentu digunakan teknik memproduksi dan organisasi produksi yang sangat berbeda sekali coraknya dan mengakibatkan perbedaan yang besar sekali dalam tingkat produktivitasnya. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang tergolong dalam sektor yang lebih maju atau modern terutama terdapat dalam bidang industri minyak, pertambangan, perkebunan yang diusahakan secara besar-besaran, industri-industri dalam subsektor industri pengolahan, kegiatan pengangkutan modern, sistem bank dan badan-badan keuangan lainnya, dan berbagai jenis kegiatan jasa modern (perdagangan modern dan perhotelan), sedangkan kegiatan ekonomi yang teknologinya rendah yang menyebabkan produktivitas rendah adalah kegiatan-kegiatan di sektor pertanian bahan makanan, pertanian barang eksport yang diorganisasi dan diusahakan berdasarkan kepada cara bercocok tanam yang tradisional, industri rumah tangga, dan berbagai jenis jasa-jasa yang terutama memberikan layanan kepada kegiatan-kegiatan di sektor-sektor tradisional.

Menurut Myint di samping dualisme teknologi juga terdapat dualisme finansial. Pengertian ini digunakan untuk menyatakan bahwa pasar uang di negara berkembang dapat dipisahkan ke dalam dua golongan yaitu :
  • Pasar uang yang memiliki organisasi sempurna;
  • Pasar uang yang tidak terorganisasi sama sekali;

 Pasar uang jenis pertama terdiri dari bank-bank komersial dan badan-badan keuangan lainnya dan terdapat di pusat-pusat perdagangan dan kota-kota besar, perkembangan badan-badan ini berlaku berikutan dengan perluasan modal untuk pengembangan perkebunan tanaman eksport dan perusahaan-perusahaan pertambangan.

Sedangkan pasar uang yang tidak terorganisasi atau pasar uang yang tidak berbentuk institusional terdiri dari tuan-tuan tanah, ceti-ceti desa, pedagang-pedagang perantara, pemilik warung dalam daerah pertanian. Apabila seorang petani memerlukan dana unutk membiayai belanjanya sehari-hari atau untuk menyediakan modal kerja bagi kegiatan berproduksi, mereka merupakan sumber-sumber utama dari dana tersebut. Salah satu ciri terpenting adalah  bunga yang diberikan cukup tinggi.

Terdapat pula permasalahan dualisme regional, yaitu ketidakseimbangan di antara tingkat pembangunan di berbagai daerah dalam suatu negara. Dualisme regional yang terdapat dinegara-negara berkembang dapat dibedakan dalam dua jenis:
  • Dualisme diantara kota-kota dengan daerah perdesaan;
  • Dualisme di antara pusat negara dan beberapa daerah industri dan perdagangan dengan daerah-daerah lain dalam perekonomian tersebut;

Kedua jenis dualisme tersebut terutama timbul sebagai akibat dari penanaman modal dan pembangunan yang tidak seimbang di antara kota-kota dan daerah-daerah pertanian, ketidakseimbangan dalam kegiatan pembangunan tersebut menyebabkan jurang diantara kota-kota dan perdesaan semakin besar.

Ketersediaan modal menjadi faktor penting dalam mendukung kegiatan pertanian. Di negara-negara sedang berkembang terbatasnya dana modal dan tabungan masyarakat merupakan penghambat dalam menciptakan pembangunan ekonomi yang pesat, pendapatan masyarakat yang rendah dan terbatasnya sektor modern menyebabkan kesulitan dalam mengumpulkan dana yang berasal dari pajak, sehingga terciptanya lingkaran kemiskinan. Menurut Meier dan Baldwin dinegara-negara berkembang kekayaan alam belum sepenuhnya diusahakan dan dikembangkan karena tingkat pendidikan masyarakat masih relatif rendah, karena kurangnya tenaga ahli, dan karena terbatasnya mobilitas dan sumber-sumber daya. Secara umum lingkaran kemiskinan terjadi karena :
  • Ketidakmampuan untuk mengerahkan tabungan yang cukup;
  • Kurangnya perangsang untuk melakukan penanaman modal;
  • Tarah pendidikan, pengetahuan dan kemahiran masyarakat relatif rendah;

Beberapa Permasalahan Pengembangan Pertanian Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Realitas Sosial

0 komentar:

Post a Comment