Kesejahteraan Rakyat, Antara Cita dan Realitas

Friday, February 10, 2012

Menyikapi Pujian dan Celaan

Seseorang tidak akan menjadi hamba yang ikhlas sebelum ia memandang sama antara pujian & celaan. Baginya yang terpuji takkan menjadi tercela karena celaan mereka dan yang tercela takkan menjadi terpuji karena pujian mereka. Jangan bangga karena pujian orang karena pujian mereka sekali-kali tidak akan mengangkat kedudukanmu di sisi Allah dan tidak akan merubah takdir dan ketetapannya atasmu. Jangan bersedih karena celaan orang karena itu sekali-kali tidak akan menurunkan derajatmu disisi Allah (Bahkan akan menaikkan kedudukanmu disisiNya karena kesabaranmu). Cukuplah atas kesaksian Allah atas perbuatan baik dan burukmu. Firman Allah: 'Cukuplah Allah sebagai saksi' (QS 4:79).
Bagaimana mungkin mengharapkan pujian dan mengkhawatirkan celaan dari orang yang tidak dapat menghindarkan celaan dari dirinya dan mewujudkan pujian bagi dirinya. Maka pandanglah pujian dan celaan sebagai hal yang sama. Beramallah yang mendatangkan pujian dan ridha Allah atas dirimu. Ketahuilah, sesungguhnya manusia diciptakan dalam kelemahan (QS 4:28), dari air hina (QS 77:20, 32:8). Mereka tidak memperoleh apa pun selain apa yang mereka usahakan (QS 53:39) dan mereka tidak mampu mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudharat pada diri mereka, dan tidak pula berkuasa mendatangkan kematian, kehidupan dan kebangkitan (QS 25:3).

Menyikapi Pujian dan Celaan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Imam Mukti

0 komentar:

Post a Comment