Kesejahteraan Rakyat, Antara Cita dan Realitas

Friday, January 20, 2012

URGENSI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA


Dalam kehidupan manusia, bahasa merupakan salah satu produk hasil kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan baik di sekolah maupun di masyarakat. Dengan adanya bahasa, manusia dapat memberi nama segala sesuatu yang dilihat oleh mata dan melalui bahasa pula kebudayaan bangsa dapat dibentuk, dibina, dan dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan. Sebaliknya tanpa adanya bahasa peradapan manusia tidak mungkin berkembang, bahkan identitasnya sebagai manusia yang senantiasa berkomunikasi tidak akan dapat berlangsung dengan baik.
Bahasa Indonesia mempunyai ragam lisan dan tulisan yang kedua-duanya digunakan dalam situasi formal dan nonformal. Sehingga, guru harus selayaknya memperkenalkan bahasa Indonesia kepada siswa.
Pengajaran bahasa Indonesia pada hakekatnya adalah pengajaran keterampilan berbahasa, bukan pengajaran tentang berbahasa. Keterampilan-keterampilan berbahasa yang perlu ditekankan dalam pengajaran berbahasa Indonesia adalah keterampilan reseftif (mendengarkan dan membaca) dan keterampilan produktif (menulis dan berbicara). Pengajaran berbahasa diawali dengan pengajaran keterampilan reseptif, sedangkan keterampilan produktif dapat turut tertingkatkan pada tahapan selanjutnya. Kemudian peningkatan kedua keterampilan tersebut akan menyatu sebagai kegiatan berbahasa yang terpadu.
Peningkatan kualitas pendidikan tidak lepas dari peningkatan profesionalisme guru yang selama ini masih menjadi sorotan utama dalam berbagai kasus yang menyangkut kualitas pendidikan. Fokus sorotan didasarkan pada anggapan bahwa guru adalah orang paling menentukan berhasilnya pelaksanaan pendidikan, karena guru merupakan ujung tombak pendidikan, guru secara langsung mempengaruhi, membina, dan mengembangkan kemampuan siswa, agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi[1] Hal ini dijadikan bukti bahwa harapan masyarakat terhadap guru sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan keberhasilan pendidikan cukup besar.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas seharusnya menjadi tantangan bagi guru untuk lebih giat menjalankan tugasnya dengan baik dan membenahi unsur-unsur yang dianggap masih kurang. Tidak perlu menyalahkan pihak yang lain dalam hal kekurangan tersebut karena harus dipikul bersama antara pemerintah, masyarakat atau orang tua siswa itu sendiri.
Di dalam menjawab tantangan itu, seorang guru harus berpikir kreatif dan menguasai sejumlah kemampuan pengetahuan dan keterampilan. Guru harus kreatif dalam memindahkan pengalaman dan pengetahuan kepada peserta didiknya secara efektif dan efisien, agar peserta didik dapat dengan mudah menerima dan memahami pelajaran yang diberikan kepadanya.
Dalam pencapaian tujuan pendidikan, baik pendidikan umum atau pendidikan agama, maka diperlukan adanya metode untuk dipergunakan dalam proses belajar mengajar. Para guru hendaknya bisa memilih metode untuk dipergunakan, dan sesuai dengan kondisi setiap sekolah serta daya serap siswa.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

URGENSI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Realitas Sosial

0 komentar:

Post a Comment