Kesejahteraan Rakyat, Antara Cita dan Realitas

Saturday, January 28, 2012

KEADILAN DI NEGERI INI SEDANG MATI

Bukanlah sebuah rahasia ketika melihat realitas negeri kita saat ini, dan bukan pula hanya sebuah kata-kata atau retorika ketika kita mengucap bahwa di negeri ini yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Para koruptor mendapat hukuman yang ringan, sementara masyarakat kecil mendapat hukuman yang berat, fakta hukum bukan lagi menjadi dasar pertimbangan dalam memutuskan sebuah perkara, celakanya keyakinan hakim juga terkadang sarat dengan sebuah kepentingan.
Penegakkan supremasi hukum di negeri yang kita cintai ini berada pada titik yang sangat menghawatirkan, kejujuran tidak lagi dihargai, kejahatan telah terorganisir dengan baik dan sebaliknya kebenaran sangatlah sulit diorganisir dengan baik sehingga kejahatan dengan entengnya dapat memangsa kebenaran.
Rakyat semakin sulit membedakan antara yang salah dan yang benar, akibatnya rakyat semakin mudah untuk terjebak dengan berbagai persoalan hidup. Baik hukum, sosial, eknomi dan lain sebagainya. Rakyat hanya dijadikan sebagai simbol sebuah perjuangan di negeri ini oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuannya, tapi ironisnya rakyat tidak pernah sadar bahwa harkat dan martabatnya telah tergadaikan dengan harga yang sangat murah.
Rakyat yang bersalah harus dihukum sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, sementara kelompok-kelompok tertentu yang menguasai perekonomian, politik dan kekuasaan sangatlah sulit tersentuh oleh penegakkan hukum. Hal ini berarti bahwa rakyat yang mayoritas menghuni negeri ini seperti para petani, nelayan, buruh dan kelompok masyarakat yang tidak memiliki kemampuan ekonomi mapan, akan menjadi sasaran empuk bagi penegakkan hukum yang menyimpang.

KEADILAN DI NEGERI INI SEDANG MATI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Realitas Sosial

1 komentar:

  1. Salam.
    Keadilan adalah barang mahal, karena ia hanya milik orang yang berduit, tentu bukan keadilan yang subtantif, tetapi pseudo keadilan. kultur budaya kita memang belum menghargai tipe keadilan yang sebenarnya. sebagian besar dari kita masih bersikap subyektif dalam memahami keadilan, ada gap defenisi keadilan antara orang berduit dan orang kere, penguasa dan rakyat, antara penindas dan tertindas. itulah lingkungan kita. keadilan adalah hanyalah komoditi disaat-saat orang berdiut membutuhkan dukungan ..
    jadi untuk sekarang ini..kita masih minim fakta untuk melihat keadilan subtantif (sebenarnya)... tetapi selalu ada harapan untuk melihatnya, karena keseimbangan dunia hanya bisa didapat dengan berlakunya prinsip keadilan secara menyeluruh..
    Salam.

    ReplyDelete